Laman

Selasa, 14 April 2009

RAMAI BANGET TANAM POHON SSN SMP NEGERI 1 MUARA BADAK TAHUN 2008

Suasana tanam pohon sebagai awal dimulainya SSN SMP Negeri 1 Muara Badak.

Belajar Dari Pohon

Pohon yang besar dan kuat berasal dari sebuah benih yang kecil. Sesungguhnya dari sebuah pohon kita dapat mempelajari budi pekerti. Pohon di alam telah mengajari kita kepada suatu pesan yang mendalam, bahwa hidup ini adalah sebuah proses yang tidak memiliki keabadian. Perhatikanlah pohon, ia tumbuh mengikuti hukum alam demikian pula dengan manusia yang juga tumbuh mengikuti hukum alam, lahir, sakit tua,dan mati. Namun banyak dari kita yang tidak memeprhatikan proses ini dan menganggap tubuh jelmaan ini sebagai “diri hingga mengharapkan keabdaian.

Dari sebuah benih yang kecil tumbuh menjadi sebuah pohon dan setelah dewasa pohon akan aktif memproduksi bunga datau buah-buahan. Kita sebagai manusia hanya memperhatikan produktifitasnya saja tanpa merenungkan hakikat sejati dari proses tersebut.

Demikian pula dengan dedauanan, setelah menghijau ia akan menjunjung tinggi, mati, berguguran dan kering. Yang kita lihat hanyalah sebagai sampah-sampah daun. Membuangnya ke bak sampah atau menggunakannya sebagai pupuk kompos, tanpa memperhatikan makna yang terkandung di didalamnya dan menyadari bahwa alam sedang mengajari budi pekerti kepada kita.

Tubuh kita lahir sama dengan kelahiran sebuah pohon dan terganrtung dengan empat elemen alam : tanah, air, udara,dan panas. Tubuh ini kita terawat dengan diberi makan dan dibersihkan sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang. Tiap bagian dari tubuh kita berubah dan berkembang secara alami. Organ-organ dalam tubuh, tulang-tulang, kulit,kuku, dan rambut semmuannya berubah. proses ini tidak beda dengan sepatang pohon. Jadi denganmemperhatikan fenomena alam sekitar sesungguhnya kita telah melihat diri kita sendiri.

Rambut yang semula lebat dan hitam lambat laun akan memudar dan berjatuhan bagai daun-daun yang mati: kulit yang semula halus bagaikan telur rebus kelak akan menjadi keriput dan kehilangan elastisitas,bagaikan kulit pohon yang pecah karena termakan waktu ;begitupun juga dengan karya-karya, ide-ide, pemikiran kelak pasti akan menyusut karena lemahnya syaraf-syaraf otak, bagaikan pohon yang tidak lagi aktif berbungan atau berbuah karena menurunnya priduktifitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar